
Preview Pertandingan: Chelsea vs Barcelona
Chelsea terpilih menjadi tuan rumah untuk leg pertama di pertandingan Liga Champions versus Barcelona. Sejarawan Rick Glanvill dan Ahli statistic klub Paul Dutton melihat secara dekat pertandingan masa lalu antara Chelsea dan Barcelona…..
POIN PEMBICARAAN
Selamat datang di bagian berikutnya dari akhir dramatis Chelsea di musim ini. Apakah anda sudah puas dengan kemenangan Chelsea atas Tottenham Hotspur? Jika ya, Ucapkan selamat datang kepada FC Barcelona, tim yang belum terkalahkan.
Betapa beruntungnya kita hidup di jaman ini. Untuk menikmati pertandingan antara kedua tim tersebut: ini adalah semi-final Chelsea yang ke 14 sejak kedatangan Roman Abramovich Sembilan tahun yang lalu. Liverpool sudah menunggu di final Piala FA. Terbuka kemungkinan besar jika ini bisa menjadi salah satu pekan yang paling hebat dalam sejarah 107 tahun klub.
Ada yang mengatakan jika Chelsea tidak hanya melawan sebuah tim, tapi juga filosofi. Meskipun kami berharap tidak ada orang terlalu memikirkan hal ini, kami harus berharap pemain kami bisa bersaing untuk menghadapi pemain-pemain dari Catalan yang lebih diunggulkan.
Semoga di malam kita tidak lagi dirugikan oleh wasit, tapi tidak ada keraguan sama sekali jika semua orang yang berada di Stamford Bridge masih mengingat pertemuan terakhir kami pada 2009. Seperti yang Frank Lampard katakan ‘Masih ada dendam yang belum terbalaskan’.
Barcelona tentunya tahu jika mereka datang melawan Chelsea mereka tidak bisa bermain seperti melawan tim-tim lain. Tak ada pemain yang tak pernah mengatakan jika fisik, mental dan pengalaman Chelsea sangat kuat.
Mereka harus menyadari jika mereka dalam bahaya. Ada jurang ukuran badan yang besar antara kedua tim. Susunan pemain Barcelona saat bermain melawan Levante akhir pekan kemarin secara rata-rata kalah tujuh centimeter dari para pemain Chelsea yang tampil di Wembley melawan Spurs akhir pekan kemarin.
Ini bukan hanya masalah fisik yang dimana Barcelona tahu tapi juga proposisi yang berbeda. Hasil pertandingan melawan Spurs membuktikan langkanya kualitas skuad Roberto Di Matteo – yang sama sekali tidak terlihat di musim ini – pada akhirnya mereka kembali muncul di waktu yang sangat tepat.
Meskipun itu sudah telat untuk meraih posisi keempat klasemen Premier League, tapi lawan kami di malam hari ini tahu jika kekuatan dan persaingan di Premier League lebih merata ketimbang La Liga.
Bahkan, perbedaan poin antara peringkat satu dan dua dengan peringkat tiga adalah 29 poin. Dan sebagai perbandingan, hanya ada jarak 26 poin dengan peringkat ketiga, Valencia dan klub yang berada di peringkat buncit, Racing Santander.
Para kritikus bahkan mengatakan jika Liga Primera berada dalam bahaya karena kurangnya daya saing yang bisa memberikan Liga tersebut makin berwarna.
Tidak seperti tempat lain yang mereka kunjungi di tanah kelahiran mereka, Puyol dan kawan-kawan tahu jika mereka harus melakukan segalanya di Stamford Bridge dini hari nanti. Dan Barca terbukti selalu mengalami kesulitan jika bermain di luar kandang mereka sejak dilatih oleh Pep Guardiola.
Mereka sudah kalah dari Getafe dan Osasuna, dan secara mengejutkan mereka juga kehilangan poin dari tim lemah Real Sociedad dan Villareal. Setelah memenangi semua pertandingan di babak penyisihan grup di luar Nou Camp. Barca sempat dikejutkan dengan pemainan Bayer Leverkusen di BayArena meski akhirnya mereka menang 3-1.
Saat melawan AC Milan di babak perempat final, Barca ditahan 0-0. Tim tamu beruntung bisa menjaga gawang agar tidak kebobolan di babak kedua setelah mendominasi babak pertama.
Di musim lalu, Arsenal bisa mengalahkan mereka dengan skor 2-1 di Emirates Stadium dengan cara menyerang barisan belakang mereka, terutama di daerah yang luas, dan mereka berhasil mengalahkan Barca dengan dua gol di menit-menit akhir pertandingan.
Tentu saja Arsenal harus menyerah di pertandingan kedua, karena Barcelona kembali menemukan efisiensi mereka di depan gawang – Chelsea tentu saja harus berharap hal ini terjadi di Stamford Bridge.
Satu-satunya pemain yang tampil tajam di sepanjang musim adalah Lionel Messi, yang telah mencetak 63 gol dalam 53 pertandingan hingga akhir pekan kemarin, hanya sedikit di bawah 40% dari total gol Barcelona musim ini yang mencapai 167 gol. Ia berjasa atas hampir setengah dari semua gol Barcelona di Liga Champions musim ini dan telah memberikan assist seperempat dari total gol mereka.
Sebagai perbandingan, pemain dengan penampilan terbaik di Chelsea adalah Juan Mata, dengan 12 gol dan 16 assist dan Frank Lampard, yang telah mencetak 16 gol dan delapan assist. Top skorer The Blues di musim ini adalah Didier Drogba dengan empat gol. Pemain asal Pantai Gading ini juga telah mencetak dua gol dalam tujuh pertandingan melawan klub asal Catalan tersebut.
Sebagai bukti begitu bergantungnya Barcelona terhadap Messi, Messi telah berkontribusi lebih dari empat kali jumlah gol rekannya, Cesc Fabregas, dan mampu memberikan assist 70 persen lebih banyak.
Kontribusi dari Fabregas, yang sering tampil emosional ketika bermain melawan The Blues saat masih bersama Arsenal, telah menurun sejak pergantian tahun, dengan hanya satu gol di La Liga dan Liga Champions tahun ini.
Penampilan dari keduanya, bersama kontribusi dari pemain lain seperti Pedro dan Alexis Sanchez, telah semakin menurun selama beberapa waktu musim ini.
Di musim 2008/09, Andres Iniesta, yang mencetak gol penyama kedudukan di Stamford Bridge yang menghancurkan hati The Blues, mampu memberikan assist di hampir 40 persen pertandingan yang ia mainkan. Namun hal itu kini menurun menjadi hanya 20 persen saja.
Ketika terakhir kita bertemu dengan Barcelona, Xavi mampu mengkreasikan gol di 55 persen pertandingannya, dan sekarang hal itu turun menjadi sekitar 30 persen saja.
Chelsea seperti tampil setelah bertransformasi di hari Minggu lalu di Wembley (menang 5-1 atas Tottenham Hotspur), di mana Mata, Ramires, dan Drogba, menampilkan permainan terbaik mereka musim ini.
Mereka tampil lebih bebas dengan formasi 4-2-3-1 racikan Robbie Di Matteo, yang mendukung terjadinya kemenangan besar atas rival berat, dengan skor yang sama seperti yang terjadi saat Chelsea melawan Watford di tahun 1970.
Kemenangan bagi Londoners malam ini akan memberikan beban psikologis yang besar bagi pemain-pemain Barcelona. Mereka pernah gagal di semi-final kompetisi ini sebanyak enam kali dan tak pernah mampu membalikkan kekalahan di leg pertama, dan hal ini terjadi pada tahun 1960 melawan Real Madrid, 1975 melawan Leeds United, 2000 melawan Valencia, 2002 melawan Real Madrid lagi, dan 2010 melawan Inter.
Terakhir, melawan tim asuhan Jose Mourinho, mereka mengalami kekalahan 1-3 di Milan, yang membuat kemenangan 1-0 di Camp Nou pada leg kedua tidak cukup untuk meloloskan mereka ke final.
Kegagalan mereka di semi-final juga terjadi pada tahun 2008, ketika Manchester United berhasil menahan imbang 0-0 di Spanyol sebelum berhasil menang 1-0 di Old Trafford, dan membuat United bertemu dengan The Blues di final di Moskow.
Chelsea kini mencari kemenangan keenam secara beruntun di kandang di ajang Liga Champions musim ini, setelah sebelumnya berhasil memenangi kelima pertandingan di Stamford Bridge musim ini, mencetak 16 gol dan hanya kebobolan dua gol.
Top skorer Liga Champions
Lionel Messi (Barcelona) - 14 gol
Mario Gomez (Bayern Muenchen) - 12 gol
Cristiano Ronaldo (Real Madrid) - 8 gol
Karim Benzema (Real Madrid) - 7 gol
Roberto Di Matteo dan Josep Guardiola pernah berhadapan sebagai pemain di perempat-final Liga Champions musim 1999/00 di mana kedua klub saat itu juga bertemu.
Pemenang dari kedua leg ini akan melawan Bayern Muenchen atau Real Madrid di Muenchen pada Sabtu, 19 Mei 2012.
FAKTA: Chelsea tidak pernah dikalahkan Barcelona dalam lima pertemuan terakhir keduanya sejak kalah di Stamford Bridge di babak 16 besar Liga Champions musim 2005/06
























